Hunting season dimulai !

Sebagai mami yang bekerja full time, dengan 3 anak balita, sigh… mau tak mau terpaksa lah harus mempersiapkan barikade pasukan lengkap di rumah.

Maksudnya ya… ada supir untuk iwar iwir (maksudnya wara wiri) anter jemput sekolah plus les les ini itu – untung masih dibantu dari supir keluarga plus ada Akong sebagai pengawal kehormatan.. ada pembantu untuk back up (nebeng sama pembantunya phopho yang ngurusin rumah) dan yang paling penting adalah ada suster jaga anak, istilah kerennya baby sitter / nanny / governess, tapi kalau di rumah sih kita pakai istilah “pawang”. Hahahahaha…

Nah, kalo di novel picisan dengan cerita roman bangsawan, ada tuh yang namanya hunting season, berburu kelinci atau rusa hutan. Tapi kalau buat saya, hunting season adalah masa masa mencari “pawang” yang bener bener melelahkan dan bikin dag dig dug, takut gak dapet.

Untungnya selama ini, hasil hunting memuaskan.. rata rata “pawang” bertahan sampai akhir. Maksudnya sampai akhir tuh.. ya, sampai mereka menikah, ikut suami, gak bisa lanjut kerja. Atau karena memang mereka mau balik usaha sendiri di desa, jaga anak. Intinya bukan gara gara gak betah karena anak anak yang dijaga super nakal, atau karena nyonya-nya cerewet. Pheeewww… puji Tuhan ! Rata-rata “pawang” saya bisa bertahan untuk beberapa kali lebaran. Paling pendek 1 thn lah. Passing grade -nya gak terlalu jelek donk, sampe jatuh tempo naik kelas ! Hehehehehe… Malah “pawang” nya sampai waris mewaris / estafet. Abis jaga Christy, jaga Aurel, sekaligus bantu bantu jaga Karin. (lama lama jadi pawang serabutan, mana aja yang lagi “ngamuk” dan perlu di “pawang-i”)

So, selama ini mendengarkan temen temen cerita soal gonta ganti suster (sampai 22 suster dalam 1 thn. tsk tsk tsk ! itu sih problem di majikannya kaleeeee) atau berkeluh kesah tentang susternya mengecewakan bla bla bla.. saya sih cuma diem diem aja, gak punya cerita untuk di sharing, karena selama ini so far so good. Masih bisa diterima lah kalo ada kurang ini itu…. cing cai dikiiittt…selama anak anak sehat, terawat baik dan hepi hepi aja.

Nah, tapi kali ini buat saya hunting season mulai lebih awal, dan timingnya gak pas, yaitu sesaat sebelum bulan puasa dan lebaran. Itu sih masa paceklik banget (biasanya….). Soalnya suster suster yang ada, pasti bertahanlah di tempat kerja yang lama, untuk nunggu bonus lebaran plus masih berusaha mencari infal (kerja dengan bayaran min 3x lipat dari normal selama masa liburan lebaran), masih mau pulang kampung dulu, dan biasanya abis lebaran pada baru berdatangan entah untuk kembali ke tempat kerja lama atau cari baru.

Sigh.. sebenernya jadi dilema juga. Suster saya (yang jaga karin) dengan baik hati mengabarkan jauh jauh hari, kalau nanti lebaran dia akan mudik dan tidak bisa kembali, karena mau menetap di desa saja dengan suaminya (ini sih versi ceritanya dia, entah bener atau ngga). Untuk waktu mudiknya pun disesuaikan dengan kecepatan saya mendapatkan suster pengganti. Kalau dapat cepat, ya sehabis gajian di pertengahan bulan depan, suster lama mau langsung pulang. Kalau belum dapat ganti, dia akan mudik sekitar 1 minggu menjelang lebaran, siapa tau sudah ada gantinya…. kurang apa lagi coba ? walaupun dia mau berhenti, tapi khan ngomong baik baik dan ada kelonggaran waktu, gak mendadak minta pulang saat ini juga.

So, sekarang dari hari ke hari, kerjaan rutin saya adalah, menelepon ke yayasan yayasan, berharap siapa tau ada. Tapi sejauh ini masih nihil. Well.. tetap dijalani saja, toh kalau memang dapat ya dapat, kalau ngga dapat ya nanti diupayakan bagaimana lah.. apakah ambil infal dulu, atau bagaimana ?

Kepusingan bertambah, karena  “pawang” saya yang satu lagi (yg jaga christy dan lanjut jagain aurel juga) juga kelihatannya tidak bisa kembali ,karena akan menikah setelah lebaran dan belum bisa konfirmasi apakah akan kembali kerja atau tidak – masih merayu calon suami untuk mendapatkan ijin….

Dengan situasi masih mau merayu suami, kayaknya tipis sih harapan bisa kembali kerja, walaupun saya cocok dengan “pawang” lama saya itu. Saya sendiri berbesar hati merelakannya untuk pergi, toh pernikahan sesuatu yang harus disyukuri khan ? Apalagi “pawang” lama saya, yang sudah terlanjur kecantol sayang dengan anak anak saya, rela mudik sampai detik terakhir, yaitu h-2 sebelum lebaran, tanpa saya minta, dengan alasan dia mau menghabiskan waktu lebih banyak dengan anak anak. Sigh.. terharu sih…cuma ya sedih juga, habis ini semua mulai dengan “pawang” baru, mudah mudahan tetap bisa baik dengan anak-anak.

Berhubung yayasan yayasan sedang kosong, maka saya juga mencoba menghubungi ex “pawang” saya, barangkali ada kenalan sesama “pawang” yang niat kerja. Ex “pawang” saya ini sekarang sudah berkeluarga, tapi masih kontak kontakan dan selalu hadir di pesta ultah anak-anak saya. Ini “pawang” yang dulu jagain christy, terus waris jagain aurel, dan berhenti setelah menikah. Sekarang anaknya sepantaran dengan Karin. Hehehehe…udah kayak keluarga sendiri. Nah.. ada sih calon “pawang” yang dikenalkan, sekarang sedang usaha saya jajaki.

Saya tidak tahu, mana yang nanti akhirnya akan jadi “pawang” anak-anak saya. Semua jalur saya jalani, yang dari yayasan, yang dari kenalan, karena memang tidak mudah, dan saya percaya itu tergantung dari “jodoh & nasib”. Semoga… tak lama lagi, saya berhasil mendapatkan “pawang” pengganti, at least untuk handle Karin dan Aurel. Kalau Christy… saya yakin, dia sudah bisa mandiri, jadi kehadiran “pawang” sudah tidak mutlak lagi…

Wish me luck in this hunting season, ya !

 

Leave a Reply